Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Anis Hayong dan Madu Hutan Flores

FLORESKITA.COM | Publik di Indonesia mungkin lebih dulu mengenal produk madu hutan asal daerah lain, sebuat saja Sumbawa dan Kalimantan. Namun, coba saja Anda masuk dan berselancar di dunia maya, masukan kata kunci madu hutan, maka akan muncul salah satu produk madu hutan dengan label dagang Rumadu. Rumadu adalah produk madu hutan yang berasal dari Flores Timur dan kini telah merambah ke pasar domestik melalui jaringan distributor, reseller serta penjualan online. Dalam satu-dua hari ke depan, produk ini akan dikecapi oleh pasar global melalui para pembalap dan ofisial kontingen sepeda dalam ajang Tour de Flores 2017.

Anis Hayong, pria kelahiran Dun Tana, Lewo Ingu Kecamatan Tite Hena, Flores Timur adalah sosok yang tidak dapat dilepaskan dari upaya melahirkan dan memperkenalkan merek madu hutan ini ke pasar. Kendati baru berusia setahun tujuh bulan, Rumadu telah dikenal luas oleh para penyuka madu hutan di Indonesia.

Kepada Floreskita.com, Anies Hayong melukiskan madu hutan sebagai sebuah produk yang akrab dengan lingkungan hidup. Madu hutan juga disebut sebagai agen koordinator, dimana apabila hutannya baik dan lestari maka akan ada madu yang tersedia di sana.

“Panggilan kita ketika melihat kondisi NTT yang seperti ini, apa yang bisa kita lakukan? Mengajak masyarakat untuk melestarikan hutan dan melakukan reboisasi tanpa ada manfaat langsung yang mereka terima, itu juga masalah. Sehingga kita mencoba mempromosikan madu hutan ini sebagai salah satu produk yang memiliki nilai, baik dari sisi kesehatan, lingkungan maupun perekonomian masyarakat lokal,” ungkap Anis.

Rumadu baru mulai diperkenalkan ke pasar pada Januari 2016. Anis dan sejumlah masyarakat di kampungnya, di Dun Tana membangun sebuah koperasi, namanya Koperasi Produksi Madu Hutan Senoesa. Target mereka, satu pulau ini (Flores-red), harus menjadi sentra pengelolaan madu hutan dengan produk yang lebih mengutamakan, higienitas, kewalitas produk dan keberlanjutan dari ekosistem hutan dan lebah hutan.

Koperasi ini berpusat di Dun Tana, Lewo Ingu, Kecamatan Tite Hena. Sebagai gambaran, koperasi ini mendampingi 72 petani madu di dua kabupaten di Flotim dan Sikka, di 5 desa yakni Desa Kolisia A dan B, Desa Tanjung Darat, ketiganya di Kabupaten Sikka dan Desa Nurabelen dan Desa Nobo di Flores Timur.

“Di setiap desa itu kita punya koordinator yang bertugas untuk memastikan SOP (standard operational procedur) pengelolaan madu hutan yang kami buat, dia berhak mendapatkan fee Rp2.500 dari setiap kilogram panen yang dilakukan oleh petani lebah hutan. Dia membantu Koperasi Senoesa untuk melakukan proses monitoring dan koordinasi mematikan ketersediaan produk, ketersediaan alat panen dan pasca panen. Kita namakan dia sebagai ICS (internal control system).”

Kemudian pihak koperasi Senoesa turun ke lokasi untuk melakukan transaksi pembayaran dan hasil panen itu dimobilisasi ke rumah produksi yang terletak di Dun Tana. Pada tahap ini, berlakulah SOP pascapanen. Di rumah produksi ini, terdapat 2 orang karyawan yang sudah dibekali dengan ketrampilan untuk pengelolaan madu di tingkat pasca panen.

“Mereka ini berhak mendapatkan fee dengan nilai Rp2.000 per botol kemasan. Pembayaran dilakukan pada akhir bulan sebesar Rp1.000 per botol dan Rp1.000 lagi menjadi simpanan mereka di koperasi. Sementara itu di tingkat produksi, ada 22 orang anggota koperasi aktif.”

Rumadu dipasarkan dalam 1 jenis kemasan saja, yakni 250 miligram dengan harga konsumen sebesar Rp75.000. Harga ini berlaku seluruh Indonesia. Produk ini sudah memiliki sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sudah memiliki SNI (standar nasional Indonesia), dan saat ini sedang dalam proses ke BPOM dan setifikasi halal.

“Sejak Januari hingga Desember 2016, yang terjual sebanyak 2.800 botol. Tahun ini kita targetkan 5.000 botol.”

Untuk menciptakan omset senilai Rp300-an juta pada tahun ini, pihak koperasi pun membangun sejumlah kalan penjualan. Antaranya melalui penjualan online di wilayah Jabodetabek dengan stok yang selalu siap. Selain itu ada marketing yang berlokasi di Jakarta.

“Kita juga punya reseller di Bali dan Surabaya. Di NTT ada reseller dan ada juga yang membeli tunia dan dijual kembali. Dari semua itu kita tekankan agar harga jual ke konsumen akhir adalah Rp75.000 karena para reseller ini sudah mendapatkan keuntungan dari koperasi.”

Untuk memastikan kapasitas produksi pihak koperasi melakukan dua pendekatan mengingat madu hutan tidak dapat dibudidayakan. Pendekatan pertama pada saat proses panen yakni dengan menerapkan pola panen lestari. Caranya, petani hanya boleh mengambil sebagian sarang yang berisi madu dan bagian yang lain dibiarkan untuk membantu proses berkembang biar agar populasi meningkat dan itu juga menjadi sumber makanan bagi lebah. Dengan pola ini, petani bisa mendapatkan hasil panen yang dua kali lipat dimana rerata satu tahun 3 kali panenĀ  pada kisaran Maret-April, Juli-Agustus dan Okober-Desember.

“Pendekatan kedua adalah perluasan wilayah dampingan, mulai dari Flores Timur ke Sikka lalu rencana masuk ke Ende. Metode untuk ekspansi ini dilakukan dengan sistim jemput bola karena pihak koperasi sangat selektif dimana para petani harus memahami lebih dahulu SOP dari Rumadu sampai dengan dia harus memiliki peralatan panen yang sudah ditentukan dan memastikan bahwa dia melakukan SOP panen yang sudah ditetapkan, baru barangnya kita ambil.

Menurut Anis, peralatan panen lebih banyak menggunakan media lokal seperti pisau stainless steel, sarang lebah tidak boleh dibakar, menggunakan serong-dalam bahasa lokal, tetapi harus dibungkus dengan daun-daun hijau untuk menghalau percikan api serta menggungakan katrol untuk menurunkan panenannya dari atas ke tanah.

“Untuk pasca panen, pengolahnya harus menggunakan masker dan sarung tanam, pisau stainless steel, hasil panen tidak boleh diperas tetapi harus diiris dan ditiriskan. Karena kalau diperas maka hasil madu tidak baik kwalitasnya karena tangan yang kotor dan madu bercampur dengan larva dan lainnya.” (JK)

 

 

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *