Tuesday, August 14ITS ALL ABOUT FLORES

Badan Pengelola Pasar di Maumere dan Tempat Mesum

MAUMERE – Kalau berita soal Lastri di Flores Timur, atau rumah tripleks di Lembata, bukan lagi kisah baru untuk masyarakat di dua tempat itu. Demikian juga dengan tempat-tempat mesum di sejumlah wilayah lain di Flores. Rerata tempat-tempat seperti itu, mengambil lokasi di pinggir kota jauh dari keramaian. Barangkali faktor keamanan dari tatapan mata warga jadi pertimbangannya.  Namun, kejadian di Maumere ini cukup unik karena tempat mesum ini terletak di tengah pasar nan ramai dan berlokasi di samping kantor badan pengelola pasar.

Sebuah bangunan semi permanen diapit bangunan semi permanen lainnya di lokasi penjualan pisang dan ubi-ubian di Pasar Alok, Kota Maumere, Pulau Flores. Warung yang telah lama ditinggalkan pemiliknya ternyata sudah berubah fungsi menjadi tempat mesum. Setiap hari dalam seminggu atau dua-tiga hari dalam sepekan, para pria membawa perempuan dari luar kompleks pasar ke dalam rumah kosong yang tak dikunci itu.

“Mereka bawah perempuan dari kali (di sekitar bangunan Sikka Inovation center (SIC) ke dalam rumah ini. Mereka tidur sampai pagi. Kadang setiap malam, kadangkala dua sampai tiga kali dalam seminggu mereka bawa perempuan ke sini,” beber Cosmas Mademus, sebagaimana dikutip pos-kupang.com, Selasa (12/12/2017).

Tidak hanya bangunan bekas warung makan itu. Di sekitar lokasi pasar itu, ada juga tempat-tempat yang dijadikan ajang beraktifitas mesum. Kata Cosmas, kios kosong di sebelah utara dekat los-los pedagang rombengan lebih ramai dijadikan tempat mesum. Lokasinya nyaris mepet dengan kantor badan pengelola pasar.

Cosmas mengaku kesal perlakuan pengelolaan pasar. Penjual pisang dan ubi yang datang dari kampung dibiarkan menjajakan dagangan di terik matahari, penjual pakaian rombengan diberi tempat yang semula diperuntukan bagi penjual pisang dan ubi. Tempat jualan mereka berhadapan dengan tumpukan sampah dan kotoran ayam dibuang oleh pengelola kios ayam potong.

“Itu (rombengan) barang ilegal, merugikan negara dikasih tempat yang bagus dibawa atap seng. Dua lokal besar untuk pakaian bekas.Orang dari kampung dikasih dibawah matahari,” ujarnya.

Tak hanya pemberian lokasi, penjual ubi,pisang dan sayur dari kampung sering jadi sasaran operasi. Barang dagangan mereka diancam diinjak dengan mobil,sepatu boneng atau dibuang ke tempat sampah.

Padahal petugas itu, kata Cosmas, mungkin orangtua atau sanak familinya mengongkosi sekolah mereka dari ubi dan pisang yang dijual ke pasar.

“Kami jualan di emperan toko atau di pinggir ruas jalan, karena tidak dikasih tempat. Tapi rombengan dikasih tempat bagus, mereka jual barang tidak jelas asal-usulnya. Daerah juga terima pendapatan dari barang ilegal,” ujar warga Diler, Desa Koting C, Kecamatan Koting Kabupaten Sikka. (PK/**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *