Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Fajar Band dari Tawau ke Nunukan

FLORESKITA.COM | Perjalanan kelompok band asal Waiwerang, Adonara di Sabah, Malaysia malam ini akan berakhir di Nunukan sebagai titik transit mereka setelah meninggalkan Tawau. Besok, mereka akan meninggalkan Nunukan menuju Lewoleba, Lembata untuk selanjutnya kembali ke Waiwerang dengan menumpang KM Bukit Siguntang.

Dalam perbincangan dengan Floreskita.com, Opin Bahy, salah satu personil band ini mengatakan,sebelumnya, Sabtu 26 Agustus 2017 mereka meninggalkan Lahad Datu menuju ke Tawau dijemput oleh KTG (Komunity Timor Gabungan), selanjutnya tanggungjawab Komisi Pastoran Indonesia Lahad Datu untuk perjalanan mereka pun beralih kepada KTG Tawau.

Tak jauh beda dengan apa yang mereka alami di Lahad Datu, di Tawau pun mereka disambut antusias. Saat malam mereka dijemput untuk makan malam bersama di sebuah restoran di kota itu. Keesokan harinya, seperti biasa personil band ini dijemput untuk misa di gereja.

Entah dari mana sumbernya, umat seperti sudah mengetahui bahwa Fajar Band ada di dalam misa itu. Tak pelak lagi, selesai misa semua orang berebutan untuk bersalaman dan berfoto bersama personil Fajar Band. Menurut Opin, melihat antusiasme umat asal NTT, orang-orang di luar NTT yang ada di gereja itu pun terheran-heran dengan kejadian itu.

“Pulang dari gereja, istirahat sebentar karena sore harinya dijemput lagi untuk jamuan makan malam Fajar Band dengan KTG di rumah kediaman Presiden KTG, Bapak Patrick asal Botung, ternyata di rumahnya sudah disiapkan peralatan band. Fajar Band memperkenalkan diri dan menceriterakan sedikit tentang kami dan meskipun spontanitas, tetapi lagu Kame Nimun Take yang kami bawakan malam itu, membuat banyak mama-mama menangis,” kisah Opin.

Hari Senin, 29 Agustus 2017 pagi rombongan Fajar Band dijemput dari penginapan dan diantar ke pelabuhan berangkat meninggalkan Tawau menuju Nunukan. Di Nunukan ada seorang warga NTT bernama Wisang Takimaka, pemilik Takimaka Beach Cafe yang mengurusi kedatangan Fajar Band, hingga menghelat konser di kota itu pada 31 Agustus 2017.

Opin mengatakan, pihaknya merasa beruntung karena kehadiran mereka di Nunukan dapat membantu umat setempat yang sedang membangung kapela mereka. Fajar Band didaulat untuk manggung di sana, sekaligus menjadikan pertunjukan itu sebagai konser amal untuk pembangunan Kapela Sungai Sembilan, Nunukan.

“Kami tidak mampu berkata-kata melihat antusiasme orang kita di Nunukan, sama seperti di Tawau dan Lahad Datu. Mereka seperti tidak percaya jika akhirnya mereka bisa bertemu langsung dengan kami. Karena selama ini mereka hanya bisa menyaksikan kami di video saja,” kisah Opin.

Di Nunukan, Fajar Band ditemani oleh sebuah kelompok band setempat yang personilnya adalah orang Flores Timur. Band tersebut bernama, Deket Band. Ada sekitar 1.500 orang yang hadir dalam konser di Nunukan hari itu.

“Konser ini dilakukan secara spontanitas karena kami kebetulan menyinggahi Nunukan sehingga ada harapan agar berikutnya konser Fajar Band lebih dipersiapkan dengan baik dan melibatkan semua elemen masyarakat Lamaholot. Orang Toraja, Bugis dan khususnya masyarakat NTT secara umum juga antusias karena kami datang membawa nama Flobamora.” (Ferdinand Lamak/Foto: Opin Bahy)

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *