Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Jaga Pelabuhan Marapokot, Nasib Baik Belum Berpihak ke Keluarga Agus Salim

Penulis : Ian Bala 

FLORESKITA.COM,-Hidup memang harus dijalankan, walau harapan akan datangnya nasib baik tak kunjung tiba. Inilah yang dialami pasangan suami istri Agus Salim (73) dan  Siti Rahani (45).

Ditemui Floreskita.com, di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Minggu (14/02/2016), kedua pasangan ini sedang duduk santai setelah kembali membersihkan kebun yang berada di belakang rumah mereka.

Agus Salim (73) dan istrinya Siti Rahani (45) sedang duduk di halaman rumah mereka setelah kembali dari kebun. Inilah tampak rumah milik Agus. (Foto : Floreskita/Ian Bala)
Agus Salim (73) dan istrinya Siti Rahani (45) sedang duduk di halaman rumah mereka setelah kembali dari kebun. Inilah tampak rumah milik Agus. (Foto : Floreskita/Ian Bala)

Keduanya tinggal dekat Pelabuhan Marapokot sebelah utara kota Mbay. Agus bersama istrinya berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara.

Sejak tahun 1970, Agus berpindah ke Mbay dan menjadi warga tetap Desa Marapokot Kabupaten Nagekeo.

Sejak itu, Agus mulai menetap dan membangun rumah sebagai tempat tinggal mereka. Dengan ukuran panjang 4 meter, lebar 3 meter dan tinggi 3 meter, rumah mereka pun dibangun.

Rumah berbentuk panggung dengan bahan dasar dari kayu bakau, dinding terbuat dari pelepah gebang dan atap terbuat dari daun lontar.

Setiap empat tahun sekali, atap rumah mereka diganti. Pada akhirnya dinding diganti triplek dan atap dari seng. Namun sayangnya selama 46 tahun ukuran rumah masih tetap semula.

Agus adalah seorang pelaut tulen. Saat pindah ke Flores, ia masih bekerja sesuai profesinya.  Namun itu tidak menjadi prioritas karena ia sering mengalami sakit. Karena itu, ia mulai bertani di pesisir pantai Marapokot.

Tanaman kebunnya adalah jagung dan kacang-kacangan. Hasil dari itu untuk kehidupan dia bersama istrinya.

Sementara Istrinya sebagai ibu rumah tangga dan juga membantunya mengolah kebun. Saat itu, hasil bertani belum memiliki harga. Pemasaran juga masih sistem barter dengan petani pribumi berupa pisang, kelapa dan beberapa jenis makanan lokal lainnya.

Setelah sekian lama mengalami kondisi tersebut, sekitar tahun 1982 Agus jatuh sakit. Sakit yang dideritanya adalah gangguan pernapasan dan malaria.

Rahani istrinya berupaya melakukan pengobatan secara tradisional. Selama tiga tahun lebih, Agus menderita sakit.

Pekerja Tanpa Upah

Setelah sembuh, Agus dipaksakan oleh  pemerintah untuk menjaga area pelabuhan Marapokot selama proses pembangunan. Perintah itu karena Agus tinggal di atas tanah milik pemerintah. Hingga pembangunan dermaga selesai, ia tidak diberi upah.

“Saya ikut perintah itu. Saya jadi satpam. Waktu itu badan saya belum sehat betul,”kata Agus.

Dia pun melaksanakan tugas itu selama kurang lebih 12 tahun. Selama masa transisi orde baru ke reformasi, ia ditugaskan lagi sebagai penjaga malam di pelabuhan Marapokot.

“Tidak ada gaji. Saya kerja saja,”ujarnya sambil mengisah kejadian waktu itu.

“Dia ikut saja. Kalau tidak ikut kan nanti kena tendang oleh tentara,”tandas Rahani dengan penuh kesal.

Pemerintah kembali mempekerjakan Agus sebagai penjaga malam dengan perjanjian memberi upah sebesar 500 ribu per bulan. Ia pun menyetujui dan melaksanakan tugas tersebut.

Agus berharap dengan upah tersebut dapat membangun rumah sehat. Sayangnya, perjanjian tersebut justru terbalik. Hingga saat ini Agus tidak  menerima upah seperti yang dijanjikan pemerintah.

“Hanya janji saja. Saya tidak terima satu sen pun,”kata dia.

Ia berharap pemerintah tidak memperlakukan masyarakat lain seperti yang dialaminya. Ia juga tidak berharap banyak dari pemerintah untuk membantunya.

“Ini juga tidak memperhatikan. Biar saya bersama istri saya alami seperti ini. Saya harap masyarakat lain tidak seperti saya,”kata dia.

Saat ini, Agus tidak bekerja lagi sebagai penjaga malam. Ia bersama istrinya kembali bertani jagung dan kacang-kacangan. Ia pun khawatir kali ini kelaparan karena tanaman mati akibat panas panjang.

“Jagung dan kacang kami banyak mati karena panas. Kami bisa lapar musim ini,”ujarnya.

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *