Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Kisah dari Vatikan: Purna Waktu Seorang Prajurit Sri Paus

FLORESKITA.COM | P. Markus Solo Kewuta SVD – Matanya sekali-sekali berlinang airmata, kadang senyum lepas selama perayaan Misa perpisahannya tadi pagi, jam 09.00.

Dia duduk di bangku paling depan diapiti ayah dan ibu yang datang khusus dari Swiss untuk menjemputnya kembali ke rumah. Dia mengenakan pakaian seragam yang sudah dikenakan selama tiga tahun dan dua bulan masa tugas. Entah itu di Pintu Sant’Ufficio, di depan pintu Santa Marta, rumah kediaman Sri Paus, entah itu di Porta di Campanello, Portone di Bronzo, Porta Santa Anna, di Cortile San Damaso, atau di berbagai sudut dan pintu Istana Kepausan dan dalam berbagai perayaan Liturgi dan audiensi Sri Paus.

Dia tahu. Hari ini hari terakhir mengenakan pakaian indah dan syarat makna tanggungjawab ini: Merah, kuning dan biru dengan potongan sangat khas, topi hitam, di pinggang sebilah pisau panjang dan di sisi lain sebuah pistol.

Fabio, 23 tahun, berperawakan tinggi, muda belia, sangat ramah dan cerdas. Dia sahabat saya yang saya kenal secara lebih dekat pada saat kunjungan crew Metro TV Oktober 2016 kemarin. Fabio mendapat tugas dari Sang Komandan untuk menjadi guide Metro TV sekaligus menjadi salah satu narasumber wawancara TV, terutama di dalam gudang senjata Guarda Swiss. Oleh karena dia berasal dari wilayah Swiss berbahasa Jerman, komunikasi kami menjadi sangat cair dan relasi persahabatan terus berlanjut. Sebelumnya Fabio saya kenal hanya sebatas tugas dan tidak bisa berbasa-basi, apalagi sebagian wajah mereka terbungkus oleh topi keamanan.

Tadi pagi, lima menit sebelum jam 09.00 lonceng Gereja Kepausan untuk Garda Swiss yang terletak di bagian dalam Vatikan, berbatasan dengan gedung Bank dan Asrama Serdadu dan tidak jauh dari barisan tiang bulat Lapangan Santo Petrus itu berdentang. Saya keluar menjemput Fabio yang saat itu baru keluar dari Asrama Garda, diapiti oleh ayah dan ibu. “Selamat pagi” (Guten Morgen!). Mereka menyahut dengan senyum polos sambil berjabatan tangan.

Ayah dan ibu Fabio baru saya kenal saat itu. „Fabio, kamu berseragam lengkap. Apakah sedang bertugas?“, tanyaku. Fabio tersenyum dan menjawab: “Saya mengenakan pakaian ini untuk Misa perpisahan saya, dan ini saya pakai untuk terakhir kali“.

Saya berpaling kepada orangtua Fabio dengan pertanyaan: “Ayah dan ibu merasa sedih karena Fabio harus tinggalkan tugas di Vatikan?“. Keduanya menggeleng kepala dan menjawab: “Tiga tahun dan dua bulan adalah waktu yang tidak pendek dan tidak panjang. Tetapi ini kemauan Fabio untuk studi lanjut. Dia masih muda, baru 23 tahun. Masa depan ada di depan dia. Dia butuh sebuah pendidikan khusus yang bisa menjamin masa depannya“.

Fabio mengangguk tanda setuju, sekalipun raut wajahnya memancarkan sebuah perasaan bercampur-baur. Tambahnya: “Masa pelayanan selama ini merupakan sebuah kekayaan besar untuk diri saya. Saya boleh melayani Sri Paus dan Gereja Katolik sedunia dengan cara saya yang tidak semua orang alami. Horison saya tentang apa itu Gereja Katolik yang mendunia semakin terbuka. Sekalipun sangat indah dan menyenangkan, saya sadar, bahwa saya membutuhkan sebuah substansi hidup dari dimensi lain juga yang bisa membantu saya untuk membangun masa depan. Jalan kembali ke Vatikan suatu hari di masa depan bukan tidak mungkin”. Kami memandangnya dengan rasa kagum oleh karena kematangan cara berpikirnya. Saat itu para serdadu lain sudah memenuhi Gereja.

Misa berlangsung dalam bahasa Latin, seperti tradisi mereka pada Minggu ke-4 dalam bulan. Bacaan-bacaan dalam bahasa Jerman dan Perancis. Injil dalam bahasa Italia. Sekalipun ritus Misa dalam bahasa Latin, mereka menjawab semuanya dengan lancar karena memang mereka sudah terbiasa.

Di akhir Misa, setelah berkat Penutup, seorang wakil memberikan kata sambutan dan diakhir dengan pemberkatan dan penyerahan lilin khusus yang didesain ala Garda kepada Fabio. Lilin adalah simbol lilin Paskah Kristus, cahaya kebangkitan yang mengalahkan segala yang jahat. Terang Kristus menyinari jalan hidup Fabio di masa depan, sekaligus mengingatkan dia akan masa bhaktinya di Vatikan, yang telah membantu menjadi terang dalam hal keamanan untuk kelancaran aktivitas Sri Paus bagi Gereja universal.

Setelah Misa, kami berkumpul di wilayah tengah perumahan Garda Swiss untuk minum-minum ringan.

Fabio, anak kedua dari tiga bersaudara dan masih single itu akan memulai studi Relasi Diplomatik Internasional di Universitas Luzern, Swiss. Mimpinya untuk mengejar karier diplomatik, malah gumamnya, kalau Tuhan berkenan, bolehlah kalau sekali waktu menjadi pegawai Diplomatik atau Duta Besar di Indonesia itu, kadang muncul berdampingan dengan keinginan untuk bisa kembali berkarya di Garda Swiss di Vatikan. Katanya, Tuhan akan memberikan yang terbaik.

Oleh karena Fabio begitu suka dengan Indonesia, saya menghadiahkan kepadanya pada kesempatan perpisahan tadi, sebuah baju Batik Solo, Jawa Tengah. Beliau langsung membuka bungkusan di antara sahabat-sahabatnya dan semua turut kagum. Fabio sangat senang dan berjanji, kalau sudah di Swiss, dia akan mengenakan baju khusus itu dan membuat foto untuk saya.

Terakhir pesan beliau: Salam untuk semua yang pernah melihatnya di Metro TV dan untuk semua fans baru di Indonesia.

Terima kasih Fabio, selamat jalan dan sukses dalam studi.
Tuhan memberkati selalu.

30 Juli 2017

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *