Monday, July 16ITS ALL ABOUT FLORES

Marianus Sae: Kami Ngada Sulit Cari Jalan Jelek

Kristo Blasin menerima Marianus Sae di rumahnya (Foto: Sergap.id)

FLORESKITA.COM | Calon Gubernur NTT dari Koalisi PDI Perjuangan dan PKB Marianus Sae mengatakan dirinya telah berhasil membawa Kabupaten Ngada dari isolasi infrastruktur hanya dalam tempo 3 tahun menjabat sebagai bupati. Hal yang sama akan dilakukannya juga jika dipercaya oleh masyarakat NTT menjadi gubernur dalam Pilgub 2018 ini. Hal ini disampaikan Marianus sebagai upaya meyakinkan partai untuk mengusungnya menjadi kandidat sebagaimana dikutip dari rekaman presentasinya ketika mengikuti fit and propper test di Kantor DPW PKB NTT, Kupang, awal Oktober silam.

“Hanya dalam tiga tahun, kami Ngada itu sulit cari jalan jelek. Ada uang, bapak ibu sekalian, hanya bagaimana kita manfaatkan uang ini,” ungkap Marianus.

Menurut Marianus, strategi yang dilakukannya di Ngada untuk mempercepat pembangunan adalah dengan mempersempit luas wilayah, baik itu kecamatan dan desa. Jika di propinsi maka luas wilayah kabupaten/kota harus dikecilkan sehingga percepatan pembangunan dapat terjadi. Di Ngada, tahun pertama memimpin pada 2010, ia memekarkan 54 desa baru.

Dirinya menitikberatkan pembangunan NTT pada sektor infrastruktur karena menurut dia, sumber dari segala sumber persoalan utama di masyarakat adalah infrastruktur. Percuma membicarakan pendidikan kesehatan dan pendidikan jika infrastruktur tidak segera dibenahi.

“Kalau sudah infrastruktur buruk seperti ini, tidak usah bicara pendidikan apalagi kesehatan. Masyarakat kita banyak yang mati di rumah, mati di jalan, semua kita tahu soal ini.”

Menurut dia masyarakat sudah sejahtera karena mereka tidak pernah meminta makan dari pemerintah. Tetapi yang membuat masyarakat miskin karena infrastruktur tidak tersedia dengan baik.

Marianus pun menambahkan, dirinya menyiasati kebutuhan anggaran dengan melakukan sejumlah efisiensi terutama dalam alokasi anggaran pada beberapa belanja untuk keperluan aparatur.

“Saya cerita apa yang lakukan di Ngada dan akan saya lakukan di NTT. Saya buka pertama dengan dana Rp480 miliar, biaya operasional kantor Rp98 miliar. Kita tahu to kita punya pegawai. Dan pertama saya tertantang, yang paling musuh dengan saya itu kepala dinas dan PNS. Saya bedah lagi, apa yang mereka beli. Ya satu beli ATK itu kan tinggal minta saja nota di toko buku, isi saja sesuai DPA, laporannya bagus, masyarakat di bawah tunggu dan tunggu.”

Ia juga berceritera, ada hekter yang usianya sudah 7 tahun,  notanya sudah 7 kali dan barangnya sama.

“Biaya operasional kendaraan, Rp37 miliar setahun, ada dinas yang beli bensinnya setahun 10.100 liter, kan mau gila. Tiap hari isi bensin 40 liter, saya suruh periksa dia punya perjalanan dinas, dia punya perjalanan dinas di dalam daerah tidak ada. Isi bensin penuh, pergi ke kantor antar bapa, sampai di kantor suruh ‘kau antar kau punya tanta ke Ende e, cepat-cepat pulang, sudah pulang bapa pulang dari kantor kita pigi ke kebun, muat pisang, batang pisang, talas semua untuk makanan babi.”

Dirinya yakin banyak orang yang tidak suka dengan apa yang sudah dia lakukan di Ngada, tetapi dirinya mengatakan, hal seperti inilah yang akan dia lakukan di NTT. (RDK)

One Comment

  • Melvi Christovel

    Mantap bpa MS….di Sabu Raijua banyak yang begitu…p mna2 pake mobil/motor dinas,pdhal su di luar jam kantor…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *