Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Misa Arwah Isteri Bupati Lembata, Diguyur Hujan Deras dan Krans Bunga Bertumbangan

FLORESKITA.COM | Rumah di Jalan Alamanda Indah 9, Kota Harapan Indah malam tadi tampak berbeda dari biasanya. Di depan pintu, seperti biasa sebagai penanda ada kedukaan, terpasang bendera kuning. Mobil-mobil berderet di sisi kiri dan kanan jalan masuk ke rumah yang di depannya terpasang tenda, ya tenda duka. Inilah rumah megah milik bupati Lembata, Yance Sunur yang tampak seperti baru dibangun. Ia berbeda sendiri dari rumah di sisi kiri-kanan maupun di seberang, yang konon 1-2 rumah diantaranya juga milik bupati asal PDI Perjuangan ini.

Mediang Nyonya Veronica Margyati Kandou adalah sosok yang dikenal sangat bersahaja di dua paroki, yakni Paroki Santo Mikhael Kranji dan Paroki Santo Albertus Kota Harapan Indah. Terbukti malam ini, berderet-deret krans bunga ucapan turut berduka cita yang memenuhi pelataran jalan depan rumah, di bawah tenda duka. Dari sound system yang terpasang di sisi kiri dan kanan rumah, lagu-lagu peneguhan pun didaraskan seolah hendak memberikan penghiburan bagi keluarga yang sedang berduka. Sebuah atmosfir yang jauh dari kebiasaan orang Flores dan Lembata ketika mengalami kedukaan.

Dua orang pastor memimpin misa requiem malam tadi, Romo Kesar Pr., pastor Paroki Harapan Indah dan Pater Alexander Nevi Mapu, SVD yang juga adalah pastor Paroki Pademangan. Nevi dahulunya adalah pastor rekan di Paroki Kranji, induk dari Paroki Harapan Indah yang mengenal dengan sangat baik mendiang dimasa hidupnya. Kedua pastor ini memimpin misa di bawah guyuran hujan deras yang sedikitpun tidak membasahi umat karena terlindung tenda duka yang kokoh.

“Allah memberikan kesempatan kepada dokter Margie sesuai dengan bakat dan talenta yang dia miliki, untuk melayani. Kita percaya dan yakin, Allah yang telah memberikan anugerah kepadanya selama 53 tahun hidup di dunia, Allah yang seperti ini pasti akan menerima kembali anaknya dokter Margie di dalam rumahNya,” khotbah Pastor Nevi malam tadi.

Misa ini sejatinya menjadi lebih lengkap bila sejumlah tokoh yang datang sesaat sebelum misa dimulai, bisa bertahan lebih lama. Sebelumnya, ada rombongan Ketua DPD Partai Gerindra NTT Esthon Foenay, Ketua Komisi V DPR RI Djemy Farry Francis, ditemani sejumlah politisi asal Flores Timur diantaranya Yoseph Lagadoni Herin yang baru beberapa hari lalu melepaskan jabatannya sebagai Bupati Flores Timur. Mereka meninggalkan rumah duka lebih awal.

Politisi Gerindra yang juga anggota DPR RI Pius Lustrilanang masih bertahan lebih lama, kendati kemudian berpamitan sebelum misa dimulai lantaran ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Sayangnya, tak ada satupun dari rombongan itu yang datang dari partai yang menjadi induk semang Yance Sunur yakni PDI Perjuangan, baik dari unsur DPD di Kupang maupun DPC di Lewoleba. Krans bunga pun tak ada, kecuali dari Anggota DPR RI yang baru saja menduduki kursi milik Honing Sanny, yakni Andreas Hugo Parera. Itu saja yang ada hingga malam tadi.

Sosok yang disebut-sebut akan mendampingi Yance Sunur dalam Pilkada Lembata 2017 nanti, Dr. Thomas Ola Langoday, tampak hadir malam tadi. Dosen di salah satu perguruan tinggi di Kupang ini tiba di Jakarta pagi tadi dan langsung melayat ke rumah bakal calon bupati yang ia dampingi nanti. Boleh jadi, ia juga membawa nama Partai Nasdem untuk menyampaikan rasa belasungkawa, sekalipun sudah ada di depan pintu utama rumah duka, krans bunga dari Anggota DPR RI Jhony Plate.

Dan, pepatah berkata, sahabat yang baik bukanlah dia yang pergi paling akhir saat pesta kemenangan Anda usai, tetapi justru dia yang pergi paling akhir ketika Anda dirundung duka. Meski berbeda dalam kanal dan prinsip politik, namun atas dasar kemanusiaanlah nilai persahabatan itu pun bisa tampak dalam sebuah kompetisi politik yang santun dan bermartabat. Dan, malam tadi pemandangan itu pun tampak secara benderang ketika Herman Yosef Loli Wutun hadir dalam misa arwah mendiang isteri Yance Sunur, orang yang mematahkan langkahnya dalam putaran kedua Pilkada Lembata 2011, yang konon terjadi melalui cara-cara yang mestinya menyisakan luka dan dendam politik. Ya, Herman menunjukkan bahwa dalam politik, meski per hari ini Yance adalah calon terkuat menurut rating survei Indobarometer dan LSI (49%) dan Herman sendiri di angka 26%, namun ia datang sebagai sesama manusia dan sesama tokoh Lembata untuk memberikan penghiburan kepada Yance. Sebuah contoh yang langka ditemui hari ini.

Krans bunga bertumbangan ketika misa sedang berjalan di bawah guyuran hujan deras. Angin memang kencang malam tadi hingga membuat beberapa umat yang hadir harus menggeser duduknya ke tengah. Namun itu tidak mengganggu khusyuknya misa arwah yang banyak menyajikan lagu ekaristi dari kaset-kaset rohani itu.

Misa malam tadi memberikan pelajaran sarat makna, bahwa lima tahun adalah waktu yang cukup lama apabila rakyat Lembata khususnya kaum ibu di Lembata dapat merasakan kehangatan dan ketulusan jiwa sosial dokter Margie Kandou. Mungkin, kesan para sahabat mendiang dokter Margie, yang terucap dalam testimoni usai misa malam tadi pun akan terdaraskan dari bibir-bibir merah sirih pinang mama-mama dari Lembata. Sayangnya, ia terlalu cepat pergi setelah lima tahun kemarin tidak banyak masyarakatnya di Lembata yang mengenal dia sebagaimana sosoknya yang dikesankan oleh handai taulannya di Bekasi. Semoga dari Sorga nan megah, mendiang dokter Margie ikut mendoakan mama-mama di Lembata, agar lewotana-leuawuq Lembata segera terbebaskan dari belenggu keluhan dan derita yang tak berkesudahan hingga detik ini. (AS/Foto: AS)

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *