Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Orang Flores Wajib Tahu, Soekarno di Ende dan Lahirnya Pancasila

FLORESKITA.COM | Kota Ende di Propinsi Nusa Tenggara Timur, adalah sebuah kota yang terletak di titik tengah Pulau Flores. sangat sepi pada tahun 1934. Jalannya tak ada yang beraspal, rumah penduduk pun jarang. Mayoritas wilayahnya dipenuhi hutan, kebun karet, dan tanaman rempah.

Ke kota itulah Soekarno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1934 hingga 1938. Bung Karno yang saat itu menjadi tahanan politik membawa istri pertamanya, Inggit Garnasih, dua anak angkatnya Ratna dan Kartika, serta ibu mertuanya, Amsih.

Bung Karno mengontrak rumah itu dari sahabatnya, Haji Abdullah Ambuwaru. Tiga kamar tersedia di bangunan seluas 162 meter persegi itu. Di belakang rumah, ada ruangan yang kerap dipakai Bung Karno untuk salat dan meditasi, serta sumur yang airnya masih dapat digunakan hingga kini.

Selang delapan dekade dari saat keluarga Bung Karno menempatinya, rumah itu tak banyak mengalami perubahan. Hanya atap seng saja yang diganti karena bocor. Sejumlah perabot, foto, dan lukisan setia menghuni rumah tersebut sampai sekarang. Sejak 1954, rumah pengasingan itu dijadikan museum. Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno saat menjabat Presiden sempat tiga kali berkunjung, yakni tahun 1951, 1954, dan 1957.

Nah, jika ingin melakukan napak tilas sejarah bangsa ini, berkunjunglah ke rumah yang dibangun tahun 1927 itu. Cukup membayar tiket Rp2.500 untuk mendapatkan kilas balik hari-hari Bung Karno di sana. Akan lebih baik kalau Anda dipandu untuk mendapatkan penjelasan dan kisah menarik di baliknya. Bapak Musa adalah seorang penjaga yang dapat menjadi pemandu. Musa adalah cucu Abu Bakar, salah seorang aktor grup tonil Kelimoetoe yang didirikan Bung Karno.

Selama di Ende, Bung Karno menghasilkan 13 naskah tonil, di antaranya adalah: “Dokter Setan”, “Aero Dinamik”, “Jula Gubi”, dan “Siang Hai Rumbai”. Juga “Rahasia Kelimutu”, “Tahun 1945”, “Nggera Ende”, “Amuk”, “Rendo”, “Kutkutbi”, “Maha Iblis”, serta “Anak Jadah”. Naskah-naskah tonil tersebut digunakan Bung Karno untuk mengobarkan semangat rakyat merebut kemerdekaan. Pementasan dramanya, saat itu, dilakukan di Gedung Imakulata, milik Paroki Katedral Ende yang lokasinya berada di Jalan Irian.

Sayangnya, sebagian naskah tonil karya Bung Karno saat ini tidak jelas keberadaannya. Yang tersimpan di rumah pengasingan itu hanyalah tujuh naskah salinan dari Ibrahima Umarsjah, mantan asisten sutradara Bung Karno.

Bagaimana dengan proses lahirnya Pancasila?

Buah pemikiran Soekarno akan Pancasila tidak muncul secara tiba-tiba. Pancasila hadir sebagai hasil dari proses perenungan diri Bung Karno selama empat tahun diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Kehidupan Soekarno dan keluarga di Ende serba sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik seperti di kota besar. Dibuangnya Soekarno ke daerah terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah memang sengaja dilakukan Belanda untuk memutus hubungan Soekarno dengan para loyalisnya.

Dikutip dari buku “Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara”, Soekarno jadi lebih banyak berpikir daripada sebelumnya. Dia mulai mempelajari lebih jauh soal agama Islam hingga belajar soal pluralisme dengan bergaul bersama pastor-pastor di Ende.

Tak banyak yang bisa dilakukan Bung Karno di tempat pengasingan yang begitu jauh dari Ibu Kota itu. Sehari-hari, Soekarno memilih berkebun dan membaca. Untuk membunuh kebosanannya dengan aktivitas yang monoton itu, jiwa seni Bung Karno kembali tumbuh. Dia mulai melukis hingga menulis naskah drama pementasan.

Di sela kegiatan seninya, Soekarno berkirim surat dengan tokoh Islam di Bandung bernama T. A. Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan pastor Pater Huijtink. Dari sinilah Soekarno menjadi lebih relijius dan memaknai keberagaman secara lebih dalam.

Sebuah tempat favoritnya untuk berkontemplasi adalah di bawah pohon sukun yang menghadap langsung ke Pantai Ende. Pohon sukun itu berjarak 700 meter dari kediaman Soekarno. Biasanya, Soekarno pergi sendiri ke tempat itu pada Jumat malam. Di tempat itulah, Soekarno mengaku buah pemikiran Pancasila tercetus.

Ia memiliki cerita sendiri soal itu. Berikut yang dikisahkan Soekarno:

Suatu kekuatan gaib menyeretku ke tempat itu hari demi hari… Di sana, dengan pemandangan laut lepas tiada yang menghalangi, dengan langit biru yang tak ada batasnya dan mega putih yang menggelembung.., di sanalah aku duduk termenung berjam-jam. Aku memandangi samudera bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukuli pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya. Pasang surut, namun ia tetap menggelora secara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya. Revolusi kami, seperti juga samudra luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan aku tahu di waktu itu bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada.”

Ketika menjadi Presiden pertama Indonesia, Bung Karno kembali mengunjungi Ende pada tahun 1950.

Bung Karno tidak lupa pada pohon sukun favoritnya itu. Di sanalah Bung Karno bercerita proses pencetusan Pancasila yang kini ditetapkan sebagai dasar negara.

Sejak tahun 1980-an, pohon sukun itu kemudian dikenal menjadi Pohon Pancasila. Namun, pohon aslinya sudah mati pada tahun 1970-an. Pemerintah setempat menggantinya dengan anakan pohon yang sama di lokasi yang sama. (astra/kompas)

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

One Comment

  • DR. Bele Antonius, M.Si.

    Sejarah bermakna mengokohkan harga diri. Belajar tentang fakta historis menjadikan seorang kokoh berdiri di atas nilai-nilai abadi. Bung Karno, seorang yang tulus, mengisahkan peristiwa diperolehnya ilham untuk memikirkan berdirinya Negara Republik Indonesia atas dasar yang kokoh, Pancasila. Syukur pada Tuhan, bahwa kita bangsa Indonesia diberi seorang putera Tuhan, Bung Karno. Puji Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *