Saturday, April 21ITS ALL ABOUT FLORES

Paket VBL-JNS Deklarasi di HUT 59 NTT

Josef A. Nae Soi saat peresmian beroperasinya KM Inerie II di Aimere, Flores (Foto: Servas Poso)

JAKARTA – Koalisi tiga partai, Partai Golkar, NasDem dan Hanura rencananya akan mendeklarasikan pasangan yang mereka usung dalam Pilgub NTT 2019, Viktor Laiskodat dan Josef A. Nae Soi pada Rabu, 20 Desember 2017 di Kupang. Deklarasi ini dilakukan tepat pada peringatan ulang tahun ke 59 Propinsi Nusa Tenggara Timur. Pilihan momentum ini sebagai sebuah simbol kebangkitan propinsi NTT yang selama ini dikenal dengan sejumlah sematan negatif mulai dari tingkat korupsi hingga kualitas pendidikan.

Sekjen Partai NasDem Johny Plate kepada media di Jakarta akhir pekan lalu menyatakan, koalisi antara NasDem dan Golkar untuk Pilgub NTT santer terdengar lama, dengan komposisi pasangan yang berubah. Sebelumnya koalisi kedua partai ini mengusung pasangan Jacky Uly dan Melki Laka Lena.

“NasDem akan segera mendeklarasikan Viktor-Josef bertepatan juga dengan hari ulang tahun Provinsi NTT ke 59 sebagai  simbol kebangkitan baru NTT. Pasangan calon kami ini sangat kompetitif, kompeten dan kami optimis akan memenangkan kontestasi Pilgub NTT,” jelas dia.

Victor, Ketua Fraksi NasDem DPR RI

Victor Laiskodat sebagaimana ditulis tirto.id, adalah seorang politikus senior Indonesia yang berasal dari Partai Nasional Demokrat. Ia pernah menjadi konsultan hukum dan juga pengacara di Kantor Hukum miliknya Viktor B Laiskodat Law Firm.

Viktor terpilih menjadi anggota DPR RI dari Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II pada pemilihan umum legislatif 2014 dan ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI.

Saat ini ia menjabat pada Komisi I yang menaungi bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, Komunikasi dan Informatika. Ia merupakan perwakilan dari Fraksi parta Nasdem yang memenangkan Dapil Nusa Tenggara Timur II yang meliputi daerah Kab. Belu, Kab. Kupang, Kab. Rote Ndao, Kab. Sabu Raijua, Kab. Sumba Barat, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Timur, Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Timor Tengah Utara, dan Kota Kupang.

Ayah 1 orang anak ini dikenal sebagai pribadi yang tegas dalam ucapan dan tindakan. Namanya bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya politisi di Senayan. Pernah menjabat sebagai legislator periode 2004-2009, ia lalu bergabung bersama para inisiator Ormas Nasional Demokrat dan kemudian Partai NasDem untuk membangun bersama partai yang mengusung Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia. Viktor merasakan idealismenya menemukan muaranya dalam gagasan yang dibawa oleh Partai NasDem.

Jika selama ini kebanyakan politisi ataupun masyarakat awam berpikir bahwa dalam kontestasi pemilu legislatif, senantiasa terjadi perebutan nomor urut di surat suara. Namun tak begitu halnya dengan Viktor. Dari tujuh kursi di NTT II, dengan tujuh nama calon dari partai, Viktor mendapatkan nomor urut terakhir, nomor tujuh.

Bagi Viktor, hal itu bukan sebuah kontestasi, siapa yang mendapatkan nomor urut pertama, tapi ini soal amanah dan tanggung jawab yang diberikan oleh partai kepada dirinya, dengan tujuan untuk membesarkan Partai NasDem, dan mampu mengantarkan partai baru ini duduk di parlemen.

Jadi tak heran, jika ia dipercaya oleh Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, untuk menjadi pemimpin politisi Nasdem di Senayan sebagai Ketua Bidang Pertanian & Maritim DPP Partai NasDem.

Josep, Politisi Humble Dengan Seabrek Bukti Nyata Bagi NTT

Sementara itu, Josef A. Nae Soi lahir di Mataloko/Flores, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 22 September 1952. Ia merantau ke Pulau Jawa sejak menjadi mahasiswa di Universitas Atmajaya, Jakarta. Saat ini ia tinggal di Bekasi bersama isti dan kedua anaknya, Alfredo Sebastanus Soi serta Justina Yosefa Mamo Soi.

Josef A. Nae Soi adalah mantan anggota DPR RI dari fraksi Golongan Karya dari Daerah Pemilihan NTT 1 yang meliputi Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai Timur.

Pada periode 2009 hingga tahun 2014, Josef A. Nae Soi tergabung sebagai anggota komisi V yang menggeluti bidang Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal. Ia berhasil menjadi anggota DPR RI dengan dukungan 53.798 suara.

Politisi yang memiliki filosofi “forterter in re suaviter in mondo” (tegas menuntaskan masalah, ramah dalam penyelesaiannya) ini memulai pendidikan dasar hingga menengah atas di Flores. Kemudian ia sempat menjadi guru SMA, sebelum kemudian hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Universitas Atmajaya. Selepas meraih gelar S1, ia melanjutkan ke jenjang S2 Managemen di Sekolah Tinggi Ilmu Management LPMI Rawamangun-Jakarta.

Perjalanan karier suami dari Maria Fransisca Djogo ini diawali sebagai guru di Sekolah Menengah Atas (SMA) Maumere Flores mulai tahun 1970 hingga tahun 1972. Rekam jejak kehidupannya mulai meningkat pada tahun 1987 saat ia menjadi Dosen Altri Kehakiman Jakarta. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya menjadi Pembantu Direktur III  Altri Kehakiman Jakarta yang dijalaninya mulai tahun 2000 hingga tahun 2005.

Karier legislatifnya dimulai di awal periode reformasi, saat ia diajak oleh Akbar Tandjung untuk menjadi seorang politisi di bawah bendera partai Golkar. Josef pun mengubah haluan dari seorang akademisi menjadi politisi. Ia berpendapat bahwa antara dosen politisi memiliki kesamaan dalam mengabdi kepada rakyat. Hanya saja, sebagai seorang politisi ia lebih bisa berbuat langsung saat  menemukan ketidakberesan pemerintah. Josef A. Nae Soi akhirnya terpilih menjadi anggota DPR RI pada periode 2004/2009, yang dilanjutkan hingga sekarang sampai pada tahun 2014.

Josef A. Nae Soi  memiliki banyak pengalaman di bidang organisasi. Ia sempat menjadi sekertaris DPC PKMRI mulai tahun 1974 hingga tahun 1976. Ia juga pernah menjadi ketua umum Koordinator Mahasiswa Universitas Atmajaya mulai tahun 1977 hingga tahun 1979. Selepas kuliah, ia menjadi wakil ketua umum di HILLSI di Jakarta mulai tahun 1992 hingga tahun 2007. Ia juga tercatat sebagai pengurus DPP Partai Golkar dari tahun 1998 hingga pada tahun 2005. Setelah itu ia menjadi Pokja DPP Partai Golkar (sejak 2005).

Sebagai putra asli NTT, ia faham betul susahnya mendapatkan akses berupa infrastruktur dan moda transportasi. Karena itu ia berharap agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius bagi pembangunan jalan-jalan dan bandara di provinsi ini. Dan ia telah membuktikan bagaimana kiprahnya membangun NTT dalam kapasitasnya sebagai Anggota Komisi V DPR RI periode lalu. Tidak hanya infrastruktur di daerah pemilihannya saja yang telah berhasil diperjuangkan dan kini tengah dinikmati masyarakat, melainkan juga di seluruh Propinsi NTT, semuanya ia perjuangkan. (FL)

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *