Sunday, February 25ITS ALL ABOUT FLORES

Ritual Penti Masyarakat Adat Wae Rebo

Upacara pemberian sesajian bagi para leluhur digelar di compang dalam rangkaian perayaan penti.
Upacara pemberian sesajian bagi para leluhur digelar di compang dalam rangkaian perayaan penti.

Oleh: Kornelius Rahalaka

Paduan pantun (go’et), musik dan tari sudah sejak dulu sudah menjadi kekayaan budaya Manggarai khususnya masyarakat adat Kampung Wae Rebo. Tak hanya tarian tapi juga sanda dan mbata selalu berpaduan dalam setiap gerak ritual khas kehidupan masyarakat adat setempat.

Upacara Penti misalnya, merupakan salah satu ritual yang masih terus dilestarikan oleh orang Manggarai. Penti adalah ritus adat warisan leluhur sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan merupakan perayaan tahun baru bagi orang Manggarai.

Kesempatan melihat dari dekat ritual penti masyarakat adat Wae Rebo merupakan pengalaman yang sulit terlupakan. Betapa tidak, Wae Rebo boleh dibilang merupakan salah satu suku terasing di Manggarai.

Kekayaan budaya dan adat istiadat yang dipunyai masyarakat Wae Rebo masih tetap terpelihara hingga sekarang. Setiap tahun ritual penti rutin dilakukan oleh masyarakat adat setempat.

Bagi masyarakat Wae Rebo, Penti merupakan tradisi yang wajib dilestarikan karena mengandung keluhuran nilai sebagai ucapan syukur kepada Tuhan dan leluhur atas hasil panen sekaligus merupakan wahana rekonsiliasi dan rajutan tali perdamaian antar warga kampung.

Karenanya setiap ajang ritual penti, semua warga kampung berkumpul untuk bersama-sama merayakannya baik warga yang menetap di kampung maupun warga Wae Rebo yang berdomisili di luar daerah.

Sebagaimana dituturkan oleh tua golo Wae Rebo, Alex Ngadus, penti merupakan momentum bagi warga kampung untuk menyampaikan syukur atas rahman Tuhan yang telah mereka terima selama setahun perjalanan hidup mereka sekaligus waktu yang tepat untuk membangun perdamaian, menjalin kembali tali kasih dan kerukunan hidup antar sesama warga.

Dalam ritual penti terungkap beberapa pesan atau petuah yang tersirat dalam sastra Manggarai atau dikenal istilah go’et yang menggambarkan syukur atas hasil panen dan kebersamaan.

Masyarakat adat Wae Rebo sedang menggelar tarian sanda di depan compang
Masyarakat adat Wae Rebo sedang menggelar tarian sanda di depan compang

Penti weki-pe’so ke’so reca rangga-wali ntaung; na’a cekeng manga curu cekeng weru (ucapan syukur dari penduduk desa kepada Tuhan  dan para leluhur karena telah berganti tahun, telah melewati musim kerja yang lama dan menyongsong musim kerja yang baru).

Seperti halnya pesta-pesta adat dalam banyak suku bangsa, upacara penti memiliki norma-norma moral spiritual yang mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungan.

Penti memiliki dimensi vertikal, horizontal dan sosial. Dimensi vertikal yakni sebagai ucapan syukur kepada Tuhan (Mori) dan kepada para leluhur (Empo) sebagai pencipta dan pembentuk (Mori Jari Agu De’de’k) yang harus disembah dan dimuliakan. Menghormati Tuhan sebagai sumber hidup dan penghidupan manusia.

Orang Wae Rebo dan Manggarai pada umumnya mengakui kemahakuasaan Allah dan tak lupa pula bersyukur kepada para leluhur (Empo) yang telah mewariskan tanah (lingko) dengan memberikan persembahan yang pantas bagi mereka atas segala jasa dan kebaikan yang telah mereka berikan.

Sedangkan dimensi sosial dari perayaan penti yakni untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan wa’u (klen), panga (sub klen), ase-kae (adik kakak), anak rona (pemberi istri),anak wina (penerima istri).

Selain itu, dengan penti secara tak langsung dapat mempererat dan memperkuat eksistensi orang Manggarai seperti terungkap dalam filosofi terkenal: gendang on’e lingko pe’ang, untuk memperteguh hak-hak ulayat yang dipegang oleh para tetua adat atas lingko-lingko yang dimiliki atau yang digarap.

Penti juga memperkuat kepemilikan tanah oleh warga yang menerima bagian dari lingko-longko tersebut baik mereka yang berada di desa maupun yang berdomisili di tempat lain. Di mana mereka mempunyai kewajiban moril untuk menjaga kelestarian lingkungan hidupnya terutama di dalam komunitas kampung, pekuburan dan mata air.

Sementara itu, dimensi sosial dari penti yakni sebagai reunikeluarga besar. Penti sebagai ajang pertemuan bagi anggota komunitas yang masih memiliki hubungan genealogis dengan mereka yang merayakannya.

Perayaan penti juga sebagai wadah untuk mengekspresikan rasa seni dan menjalin tali kekerabatan antar warga kampung. Biasanya, upacara dilangsungkan dalam suasana meriah karena diiringi berbagai atraksi kesenian tradisional seperti permainan caci, dading, de’re, sanda agu mbata dan lagu-lagu tradisional lainnya.

Perayaan penti juga sebagai media pembelajaran bagi kaum ibu atau anak-anak gadis mengembangkan bakat mereka dalam memainkan alat-alat musik tradisional seperti gong, gendang dan sekaligus tempat belajar tentang tata cara dan teknik memainkan berbagai alat musik tersebut.

Penti juga sebagai wadah untuk berkumpul kembali bagi anggota komunitas yang selama ini berdomisili di luar daerah. Mereka dapat berkumpul untuk menjalankan sejumlah ritual adat seperti te’i hang ata tu’a ko empo (memberi sesajian bagi orang tua yang sudah meninggal atau para leluhur nenek moyang) dan yang tak kalah penting adalah penti sebagai medium paling efektif untuk membangun perdamaian antar warga kampung.

Dengan demikian, pesta penti tak sekedar perayaan adat semata tetapi memiliki nilai social yakni membangun keakraban dan tali silaturahmi bagi sesama penduduk kampung. Penti merupakan sarana bagi komunitas kampung untuk membangun dan mempererat relasi antar sesama tanpa memandang status sosial kaya atau pun miskin.

Bagi orang Manggarai dan Wae Rebo khususnya, penti juga bernilai magis-spiritual di mana dengan melaksanakan penti, mereka yakini dapat menghindari diri dari sanksi magis dari para leluhur atau orang tua yang telah meninggal dunia.

Hal ini dapat dimaknai dalam beberapa ungkapan atau goe’t seperti: ai boto nangki du uma main itu itang (kesalahan yang berpautan dengan kebun agar jangan sampai terkena atau terbukti).

Perayaan penti dilakukan dalam beberapa tahapan dan setiap tahapan memiliki istilah, nilai dan maknanya masing-masing. Upacara penti biasanya dimulai dari ritus yang diadakan di laur rumah seperti di area lingko, wae teku, boa (kuburan) dancompang (altar persembahan) hingga pada Mbaru gendang (rumah adat) atau tembong dengan urutan antara lain barong lodok, barong wae, barong boa, barong compang atau taking compang. Ritus ini sejalan dengan ungkapan sastra Manggarai yang terkenal seperti: Mbaru bate kae’ng,uma bate duat; Wae bate teku-natas bate labar, compang tara.

Upacara Boa sendiri merupaan ritus khusus untuk menghormati para leluhur dengan menyembeli hewan peliharaan sebagai persembahan yang diiringi dengan doa-doa sesuai dengan norma adat masing-masing kampung. Usai melakukan ritus di compang, warga kemudian masuk ke rumah adat untuk melaksanakan apa yang mereka namakan wisi loce(bentang tikar) yakni ajakan bagi para roh leluhur yang telah diundang dari lodok, boa, wae teku dan compang untuk sama-sama menantikan upacara puncak penti.

Usai upacara penti, semua warga boleh kembali ke rumah mereka masing-masing untuk melaksanakan upacara libur kiloyakni upacara penti untuk masing-masing keluarga bertujuan serupa yakni mengucap syukur kepada Tuhan sekaligus meminta bimbingan dan penyertaan Tuhan dan leluhur untuk perjalanan hidup masing-masing keluarga ke depan.

Upacara libur kilo juga merupakan saat yang paling tampan untuk menjalin kembali tali persaudaraan dan perdamaian(hambor) diantara anggota keluarga yang retak, berdamai dengan  Tuhan dan para leluhur.

Dapatkah ritual penti dan kekayaan budaya Wae Rebo ini bisa bertahan dalam guliran roda modernisasi?.

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *