Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Ritual Segang Masyarakat Adat Tana Ai sebagai Pendinginan di Kebun Baru

Penyakit yang menyerang tanaman kerap mengganggu petani.Untuk mengusir hama penyakit,etnis Tana Ai kerap mengadakan ritual Segang yang berfungsi memberi pendinginan dan menghindarkan kebun dari serangan hama penyakit.Bagaimana prosesnya?

Penulis : Ebed de Rosary

FLORESKITA-Mentari persis berada di atas kepala. Sinarnya menyengat usai rintik hujan membasahi kebun.Siang itu,Sabtu ( 20/2/2016 ) FloresKita menyambangi kampung Wirbou desa Nebe kecamatan Talibura, kabupaten Sikka.

Hari itu, sudag 46 hari semenjak digelar ritual Pahe Uma Weru dan Uma Ramut, suku Soge kembali menggelar ritual adat Segang. Segang biasa diadakan di bulan Februari saat Ipun (ikan kecil) pertama,Ipun Loen Goit  atau Ipun penunjuk jalan muncul di kali Nangagete.

Pendinginan

Proses ritual diawali dengan membuat Lekun, makanan adat etnis Tana Ai yang dibuat dari padi sisa tanam saat ritual Pahe Uma Weru dan Uma Ramut. Beras ditumbuk di Lesung (Nuhun) lalu diaduk merata bersama gula merah, kelapa parut, dan sedikit gula pasir.

Semenjak pagi, Sope (pembuat ritual adat) beranjak ke hutan mencari dedaunan yang akan dipergunakan saat ritual. Ritual Segang  sebut  Wilhelmus Wolor (70) yang bertindak selaku Sope, digelar guna membuat pendinginan dan menghambat penyakit. Segang disebut juga Mula Bura karena daun-daun yang diambil dari hutan dan dicelup di dalam air juga dipoles dengan Lekun.

Wilhelmus Wolor selaku Sope memberi makan arwah leluhur dalam ritual Segang. (Foto :FloresKita/Ebed de Rosary)
Wilhelmus Wolor selaku Sope memberi makan arwah leluhur dalam ritual Segang. (Foto :FloresKita/Ebed de Rosary)

“Ada  tujuh jenis daun yang dipakai dan setiap jenisnya diambil tujuh lembar.Daun ini yang akan dicelup ke air bercampur Lekun dan ditanam di keempat sudut kebun,“ujarnya.

Dalam ritual adat ini, Sope akan berbicara dengan para leluhur dan penjaga kebun agar bisa melindungi kebun dari serangan ham penyakit.Ritual Segang sebut Wolor masuk dalam serangkaian riatual adat membuka kebun baru.Jika sudah digelar ritual ini, tambah Wolor, masyarakat Tana Ai meyakini kebun miliknya menghasilkan panenan (padi dan jagung) yang berkecukupan.

Selain memercikan kebun dan menanam daun, tambah Wolor, sebelum ritual Segang harus dibuat Piong Tewok memberi makan dan minum kepada para arwah dan leluhur.Masyarakat Tana Ai juga kata Wolor meyakini bahwa arwah leluhur dan penjaga kebun hadir sejak awal dimulainya ritual dengan membuat Lekun.

Memberi Makan

Sekembalinya dari hutan membawa daun, sekitar pukul 11.00 wita, Sope bergerak menuju pondok d tengah kebun. Lekun sudah selesai dibuat, semua kerabat pemilik kebun duduk bersimpuh di bale–bale bambu di tengah kebun. Selesai menyeruput kopi, Sope bersama pembantunya menyiapkan sirih pinang dan tembakau di tempat sirih pinang yang kerap dinamakan Teli Wua. Parang Huga,Teli Luka dan sebuah Gelang diletakan di bale – bale bambu. Gelang oleh Sope dimasukan  dalam Teli Wua.

“Ada dua bentuk sirih pinang dalam ritual ini, yakni Wua Taa Blutuk, sirih pinang untuk arwah dan Wua Taa Liren, sirih pinang perdamaian,“ujar Markus Moro (50) bertindak selaku pembantu Sope.

Telur ayam mentah dipecahkan dan isinya dituang ke dalam 4 buah Korak (tempurung kelapa) yang sebelumnya sudah diisi beras.Sesudahnya Sope mengambil Teli Wua berisi sirih pinang dan akar pohon (Sese Weor Nitu Maten). Sese Weor diambil dari nama burung berwarna hitam dan bermata merah yang dipercaya sebagai jelmaan arwah.

Wilhelmus Wolor selaku Sope memercikan Ai Pua memakai darah ayam. (Foto :FloresKita/Ebed de Rosary)
Wilhelmus Wolor selaku Sope memercikan Ai Pua memakai darah ayam. (Foto :FloresKita/Ebed de Rosary)

Sope meletakan sirih pinang, tembakau dan sedikit akar (Sese Weor Nitu Maten) di sudut bagian bawah bale–bale seraya komat–kamit membaca mantra.Ini dilakukan untuk memberi makan arwah leluhur.Bersama pembantu Sope, kedua korak dihantar ke Ai Pua.Di depan kedua batu ceper dua Korak berisi telur ayam diletakan.

Daun gamal ditebar di sekeliling dan di atas dua batu ceper ini. Beras dan Patan (kertas coklat) juga diletakan di atas daun–daun Gamal tersebut. Dua telur ayam bulat di Korak dipecahkan dan isinya disiram di atas daun –daun gamal dan sisanya di masukan di kedua Korak bersama beras yang juga diletakan di sana.

Sope kembali ke bale–bale. Dua buah korak lainnya diambil pembantu Sope dan diletakan beberapa langkah di sisi utara pondok.Sekembali ke pondok pembantu Sope bersama keluarga bersiap membuat ritual di Ai Pua.

“Korak berisi telur ayam dan beras yang diletakan di tengah kebun dimaksudkan memberi makan atau Piong pada Guna Dewa dan Tana Wulan.Guna Dewa itu penjaga kampung sementara tanah Wulan itu bumi dan langit. Mereka juga harus diberi makan agar bisa bekerja sama dengan leluhur menjaga kebun “papar Moro.

Memerciki Kebun

Luka (pembagi bibit padi),Sope, pembantu Sope bersama seorang wakil keluarga kembali ke tengah Ai Pua dengan membawa seekor ayam. Menggunakan Parang Huga ayam disayat dimulut dan darahnya oleh Sope diperciki di sekeliling Ai Pua, daun di bawah Ai Pua dan di tangan wakil keluarga, Luka dan pembantu Sope. Leher ayam dipelintir wakil keluarga hingga ayam mati dan dibiarkan tergeletak di samping Ai Pua.

Dedaunan yang semula diletakan di batu ceper di bawah Ai Pua diangkat dan diletakan di atas cabang kayu Ai Pua.Daun lainnya di celupkan ke dalam ember berisi air dan diperciki Sope di sekeliling Ai Pua sambil membaca mantra. Ember berisi daun di bawa pembantu Sope dan digantung di sebuah cabang pohon di sisi timur kebun.

Sesudah ayam dimasak, dagingnya diletakan di piring dan di bawa kembali ke Ai Pua.Ke empatnya kembali ke Ai Pua.Daun di cabang kayu Ai Pua dirunkan dan diletakan di batu ceper di bawah Ai Pua.Sope sekali lagi membuat Piong dengan meletakan potongan daging di Korak dan menaruhnya di depan Ai Pua. Beberapa potong lainnya dicabik dan dibuang Sope keliling Ai Pua.

Satu persatu wakil keluarga, Luka dan pembantu Sope maju ke Ai Pua membuat Piong Tewok. Piong identik dengan makanan sedangkan Tewok bermakna minuman. Makanan di dalam Korak juga disiram dengan Arak (Moke).Pembantu Sope membawa dedaunan yang dicelupkan di air didalam ember dan daun tersebut ditanam di keempat penjuru kebun.Ritual pun berakhir dan ditutup dengan makan bersama.

“Setelah ritual Segang, kebun tidak boleh dimasuki anggota keluarga selama empat hari empat malam “tutur Wolor memperingatkan anggota keluarga pemilik kebun.

Menurut Petrus Baga Tukan (75), putra asli desa Ojang kecamatan Talibura yang ditemui FloresKita,Minggu (21/2/2016) mengatakan,Segang dimaknai warga Tana Ai sebagai persembahan bagi leluhur, bumi, langit dan sang pencipta guna memohon agar hasil kebun bisa maksimal.Mantan guru dan penulis buku adat dan budaya ini menambahkan, Segang merupakan rangkai ritual kedua setelah Pahe Uma Werut sebelum beranjak ke 3 ritual selanjutnya.

“ Dalam setiap ritual semua unsur ini harus diberi makan agar bisa menjaga kebun agar orang yang berniat jahat tidak bisa memasukinya “ ungkap Baga.

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *