Saturday, April 21ITS ALL ABOUT FLORES

Uyelewun Raya Dikhawatirkan Akan Hadirkan Lamaholot Bangkit

Puncak Gunung Uyelewun dari kejauhan (Foto: Pictame/@sundu_leaderpaytren)

LEMBATA – Gaduh media sosial tempat bergabungnya orang-orang Lembata yang memersoalkan keberadaan jargon Uyelewun Raya, dalam beberapa hari belakangan ini. Uyelewun adalah nama gunung yang menaungi dua kecamatan yakni Omesuri dan Buyasuri atau yang lebih dikenal sebagai etnis Kedang di Lembata. Kegaduhan ini kemudian memantik beberapa pegiat sosial media di Grup Bicara Lembata, yang kerap bersuara kritis untuk mengimbanginya dengan menghadirkan slogan lainnya yakni Lamaholot Bangkit. Nah lo!

Diakui oleh warga keturunan Kedang bahwa terminologi Uyelewun Raya mulai diperkenalkan sejak Pilkada Lembata 2017 silam. Diakui pula bahwa jargon itu diciptakan untuk mengakumulasi dan memersatukan kekuatan dua kecamatan di Kedang untuk memenangkan calon yang berasal dari wilayah itu.

“Uyelewun Raya bagi saya itu memaksudkan sebuah momen kebesaran atau keagungan Uyelewun. Kebesaran nama yang mengasalkan kita semua, untuk itu selalu hati-hati dalam menggunakan nama ini, apalagi urusannya politik yang cenderung demi kepentingan golongan bahkan oknum tertentu,” ujar Betubeniehaq, nama sebuah akun di Grup Bicara Lembata.

Sementara itu, komentar yang ambigu juga datang dari pegiat media sosial lain, Matheus Suban Langoday yang mengatakan, “Saya pikir, yang lebih tahu sejarah dan budaya Kedang adalah orang Kedang itu sendiri. Jadi Uyelewun Raya itu kalimat pemersatu dan penyemangat untuk suku-suku di Kedang jadi tidak ada masalah. Kita kecamatan lain silahkan gunakan kalimat atau jargon-jargon yang dapat membangkitkan semangat dan optimisme dalam mencapai tujuan bersama di kecamatan masing-masing, yang penting tidak bertujuan memecah belah persatuan dan kesatuan di Lembata,” ungkapnya.

Namanya juga diskusi di media online, konteks dan alurnya pun kadang nyasar. Rumpun etnis dipersepsikan dalam bingkai kecamatan. Sementara sejatinya, dari 9 kecamatan yang ada di Lembata, 7 kecamatan lainnya merupakan rumpun Lamaholot, jika hendak dikotakkan berdasarkan muasal etnis dan budayanya.

Komentar Langoday di atas kemudian ditanggapi oleh Agus Banin yang berasal dari Atadei. “Uyelewun Raya muncul disaat perhelatan politik Pilkada tahun 2017 dan karenanya jargon ini adalah jargon politik identitas. Nah jika kemudian kecamatan lain di Lembata juga bersatu dan mendeklarasikan Lamaholot Bangkit, maka akan ada dua kelompok besar¬†masyarakat Lembata yang berdiri sendiri-sendiri memperjuangkan kepentingan politiknya. Dua kelompok besar ini bisa menjadi sebuah kekuatan sosial politik yang bisa memberi kontribusi positif dalam pembangunan sekaligus bisa berpotensi memecahbelah persatuan masyarakat Lembata jika kemudian terjadi ketimpangan kebijakan dalam mensejahterakan masyarakatnya,” tegas Banin.

Banin lantas menarik ingatan jauh ke belakang pada masa dimana konstelasi sosial masyarakat di Lamaholot pada umumnya terpecah dalam dua kelompok yakni Paji dan Demong. Sebuah pengelompokkan yang faktanya dijadikan alat untuk memecahbelah persatuan masyarakat. Kabupaten Lembata adalah salah satu portofolio keberhasilan para tokoh dahulu untuk membangun persatuan dan kesatuan lewat peristiwa 7 Maret 1954.

“Hari ini kita bicara soal Uyelewun Raya dan Lamaholot Bangkit, pertanyaan kemudian adalah apakah kita harus mengkhianati jerih payah para penjasa hanya untuk memenuhi birahi kekuasaan kelompok tertentu?” gugatnya.¬† (HH/FK)

 

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *