Wednesday, December 13ITS ALL ABOUT FLORES

Vandalisme di Puncak Ile Boleng, Eidelweiss pun Layu di Tangan Tak Beradab

FLORESKITA.COM | Mendaki gunung adalah kegiatan yang positif dan bermanfaat. Selain menikmati pemandangan yang indah, ia juga merupakan alternatif pilihan olahraga yang menyehatkan tubuh. Dunia pendakian saat ini mulai ramai digemari kalangan muda di berbagai daerah, tidak terkecuali di Adonara yang punya  satu-satunya gunung yang di kenal sebagai Ile Boleng atau Gunung Boleng.

Tidak seperti gunung lainya, Ile Boleng adalah gunung yang tergolong sepi dari aktifitas pendakian. Kegiatan mendaki Gunung Boleng, rata-rata ramai dilakukan sekali dalam setahun yakni pada 17 Agustus, untuk merayakan hari kemerdekaan RI. Para pendaki adalah anak- anak muda dari berbagai daerah di Pulau Adonara. Mereka mendaki dan melakukan upacara pengibaran bendera merah putih di atas puncak Ile Boleng.

Mulai bergairahnya aktifitas mendaki gunung tampak kontradiktif dengan kondisi yang ada di puncak gunung ini. Alih-alih mendapatkan kondisi puncak yang tidak karuan. Terbakaranya hutan dan rusaknya habitat bunga Eidelweiss yang merupakan tanaman khas pegunungan menjadi deretan pemandangan sepanjang rute pendakian.

Seorang pegiat Pramuka di Adonara yang sudah beberapa kali mendaki ke puncak gunung ini mengatakan, setiap kali mendaki gunung Boleng ia sering melihat aktivitas anak- anak muda yang memetik kembang Eidelweiss untuk dijadikan pelengkap objek foto dan kemudian membuangnya atau dibawa pulang sebagai cinderamata khas pegunungan tanpa sedikitpun merasa bersalah.

Mungkin para pemetik tidak mengetahui jika tanaman tersebut saat ini sedang dilindungi lantaran habitatnya terancam kepunahan. Selain melanggar kode etik pendaki gunung, mencabut bunga Eidelweiss pun bisa terancam hukuman sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Hayati Ekosistem pasal 33 ayat 1.

Coretan yang merusak pemandangan di puncak Ile Boleng (Foto-foto: Reynold Atagoran)

Ada juga yang membawa cat dan menuliskan namanya di bebatun di puncak Ile Boleng. Tak heran, Anda akan menemukan banyak sekali coretan tangan di batu-batu sepanjang jalan menuju puncak.

Sejatinya, pemerintah dan masyarakat peduli dengan kondisi ini. Pasalnya, jika gunung dengan aktifitas pendaki yang masih tergolong sepi saja sudah mengalami kerusakan kondisi ekosistemnya yang demikian parah, bagaimana nanti jika aktifitas pendakian mulai meningkat. Kondisi di puncak Gunung Boleng menjadi tak seindah gunung- gunung lain yang terawat dan dijaga kondisinya oleh para pendaki.

Jika tidak segera menyadari atau mungkin dipaksa untuk sadar, para pendaki Gunung Boleng dengan perilaku tak beradab ini akan menyebabkan habitat di puncak gunung itu menjadi korban. Bukan tidak mungkin, Eidelweiss di puncak Ile Boleng suatu saat kelak hanya menjadi kisah pengantar tidur lantaran punah dicabik tangan-tangan yang tak bertanggungjawab.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memasang tulisan-tulisan kampanye menjaga alam dan habitat di sepanjang lereng hingga puncak gunung. Paling tidak tulisan untuk mengajak para pendaki agar tidak membuang puntung rokok hingga tidak boleh membuang sampah sembarangan serta tidak memetik Eidelweiss beserta ancaman hukumannya, adalah hal sederhana yang dapat dilakukan.

Kebanggaan dan salah satu bagian penting dari ‘orgasme’ seorang pendaki gunung adalah, ketika ia di atas ketinggian puncak, dibalut hawa dingin dan terpaan angin, ia dapat menyaksikan Eidelweiss yang bergoyang di ujung tangkainya. Begitulah cara orang beradab menikmati Eidelweiss, bukannya dengan memetik dan membawa pulang sebagai buah tangan. Atau yang lebih tak beradab lagi jika dipetik dan selesai berfoto dengan Eidelweiss di tangan lalu dibuang begitu saja. Sungguh terlalu! (Reynold Atagoran/Adonara)

 

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on TumblrDigg this

One Comment

  • Mario Sogen

    Mantap amane.
    Semangat terus. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk melestarikan alam Ile Boleng. Semoga pemerintah juga tidak menutup mata dengan hal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *